penerimaan santri baru

Kyai Sholihien Hadziq: Memimpin dengan Keteladanan, Kesederhanaan dan Dekat dengan Santri

MQ Depok | KH. Dr. Sholihien Hadziq, S.H.I, M.P.I adalah ketua Yayasan Madinatul Qur’an Depok sejak beberapa tahun yang lalu hingga kini. Sebelum diamanahi sebagai ketua Yayasan beliau mengawali kiprahnya sebagai Mudir atau Direktur Pendidikan Pesantren MQ Depok, tidak lama setelah pesantren tahfizh MQ Depok dengan jenjang SMP putra yang berlokasi di kelurahan Jatimulya kecamatan Cilodong Kota Depok (kampus Madinah) didirikan pada tahun ajaran 2011-2012.

Namun jauh sebelum berkiprah dan ikut mendirikan Yayasan Madinatul Qur’an Depok pada 2009 beliau adalah seorang dai/muballigh/juru dakwah yang sering mengisi ceramah dan khotbah di masjid-masjid di seputaran Depok. Tapi profesi formal beliau adalah guru di sebuah sekolah swasta unggulan yang ada di Kota Belimbing tersebut. Di sekolah tersebut beliau mengajar beberapa mata pelajaran (mapel) baik umum maupun diniyah/agama, seperti Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Tafsir, Hadits dan lainnya.

Sampai kemudian diajak oleh Ustadz Khoirul Muttaqin, Lc, Al-Hafizh (Allahu yarham), sebagai pelopor, bersama 10 orang lainnya dengan latar belakang yang berbeda-beda, baik pendidikannya maupun pekerjaannya untuk merintis lembaga pendidikan pesantren tahfizh.

Qadarullah, dengan berbekal dana yang bersumber dari jamaah di Amsterdam (Belanda), para pendiri yang berjumlah 11 orang mencari sebidang tanah untuk perintisan pesantren. Akhirnya melalui perantara Ustadz Abdul Wahid (alm.), perintis Majelis Taklim Baitussyaakirin, menemukan sebidang lahan di Jatimulya Cilodong, yang sekarang menjadi Pesantren Madinatul Qur’an kampus Madinah.

“Yang menginspirasi saya untuk terjun di dunia pendidikan tentu adalah latar belakang saya yang alumni pesantren, dimana pesan-pesan para Kyai dulu selalu mendorong santri-santrinya untuk mendedikasikan dirinya menjadi seorang guru atau muallim,” ungkap Kyai Sholihien.

“Minimal kalau gak menjadi seorang guru, ya memiliki jiwa guru. Mau jadi apapun atau jabatan apapun kelak yang diemban, tapi jiwa guru harus tertanam/terpatri dalam diri seorang santri, tidak boleh tidak,” sambungnya.

Akhirnya ketemulah beliau dengan teman-teman yang satu visi dan satu misi, sampai kemudian mendirikan pesantren melalui Yayasan Madinatul Qur’an yang akta pendiriannya disahkan di hadapan notaris Titiek Soebekti, SH pada 17 April 2009.

Kesederhanaan dan Keteladanan

KH Sholihien Hadziq dikenal sebagai sosok kiai yang memimpin dengan keteladanan, bukan sekadar instruksi. Dalam kesehariannya di lingkungan pesantren Madinatul Qur’an Depok, beliau tampil sebagai figur yang bersahaja, dekat dengan santri, dan penuh kebijaksanaan.

Kesederhanaan menjadi ciri yang sangat menonjol. Dalam sikap maupun gaya hidup, beliau tidak menampilkan jarak antara pemimpin dan yang dipimpin. Hal ini membuat para santri dan pengurus merasa nyaman, bahkan menganggap suami dari Ustazah Yani Supriyani, S.Pd, kepala kepesantrenan putri MQ ini sebagai orang tua sendiri. Kepemimpinannya tidak dibangun di atas wibawa yang kaku, tetapi pada keteladanan akhlak yang hidup.

Dalam menghadapi berbagai persoalan, ayah dari 4 putra-putri ini dikenal sangat sabar. Tidak mudah terpancing emosi, bahkan ketika menghadapi kesalahan santri atau dinamika internal pesantren. Sikapnya yang tenang seringkali menjadi penyejuk, mampu meredakan ketegangan tanpa harus memperkeruh suasana. Jika pun menegur, dilakukan dengan cara yang halus dan mendidik, bukan dengan amarah yang melukai.

Sifat pemaaf juga menjadi bagian penting dari kepribadiannya. Beliau tidak menyimpan dendam atau memperpanjang kesalahan orang lain. “Beliau kalau jengkel hanya sementara, dan tidak pernah disimpan lama. Setelah itu seolah tidak terjadi apa-apa, cair kembali hubungannya,” ujar Ust Ayat Bahrul, direktur pesantren/pendidikan MQ saat ini.

Setelah menasihati, beliau yang suka jadi penerjemah para Syekh Timur Tengah ini cenderung membuka lembaran baru, memberi kesempatan bagi siapa pun untuk memperbaiki diri. Ini menciptakan atmosfer pesantren yang penuh kasih sayang dan jauh dari rasa takut.

Selain itu, beliau dikenal tidak suka marah berkepanjangan. Jika ada hal yang membuat beliau tidak berkenan, cukup disampaikan seperlunya, lalu kembali pada sikap lapang dada. Prinsip ini menjadikan beliau dihormati bukan karena ditakuti, tetapi karena dicintai.

Dalam memimpin pesantren seperti Pesantren Madinatul Qur’an Depok, beliau lebih mengedepankan pendekatan ruhiyah (spiritual) dan akhlak. Fokusnya bukan hanya pada hafalan atau pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter santri agar berakhlak Qur’ani.

Secara keseluruhan, KH Sholihien Hadziq adalah gambaran pemimpin pesantren yang teduh: sederhana dalam penampilan, kuat dalam prinsip, lembut dalam sikap, dan luas dalam memaafkan. Sosok seperti ini biasanya meninggalkan pengaruh yang mendalam, bukan hanya dalam sistem lembaga, tetapi juga dalam hati setiap santri yang pernah dididiknya.

Latar Pendidikan

Selepas lulus dari bangku sekolah dasar (SD) tahun 1980-an di tanah kelahirannya di Kebumen Jawa Tengah, sosok kelahiran 14 Agustus 1968 ini ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan di atasnya yaitu Sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama). Namun karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan, dimana ayahnya sudah meninggal dan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga sementara saudaranya banyak, maka keinginannya untuk melanjutkan ke PGA pun kandas.

Mengapa ingin melanjutkan ke PGA? “Karena saya suatu saat nanti ingin menjadi seorang guru agama, yang terinspirasi oleh guru agama saya di kampung. Yang kelihatannya beliau orang yang rapih, saleh, dan baik. Kemudian ibadah sehari-harinya juga sangat luar biasa, sehingga saya kepingin seperti beliau,” katanya menceritakan.

Berhubung Kyai Sholihien (masa kecil) tidak mungkin melanjutkan sekolah di kampung, maka beliau kemudian memutuskan untuk hijrah ke tempat pamannya yang berada di kota Jember Jawa Timur, setelah mendapat saran dan masukan dari banyak pihak, terutama keluarga. Maka, berangkatlah beliau ke Jember.

Disana, kalau siang hari beliau membantu pamannya menjaga toko, tapi kalau malam hari beliau pergi ke pesantren, namanya Pesantren Sirojul Huda. Di pesantren tersebut beliau belajar berbagai macam pelajaran seperti Nahwu, Shorof, kemudian kitab-kitab seperti Sulam Munajat, dan sebagainya.  “Cuma waktu itu belum bisa ideal belajarnya karena masih kelas kampung,” jelasnya.

Setelah merasa usianya beranjak remaja dan sudah siap mandiri, Kyai Sholihien berkeinginan melanjutkan belajar ke pesantren yang lebih besar dan serius. Dan pilihannya jatuh pada Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan yang berada di Kecamatan Pragaan Laok Kabupaten Sumenep, Madura. Pesantren ini dipimpin oleh tiga serangkai bersaudara, yaitu KH Tijani Jauhari, KH Mohammad Idris Jauhari, dan KH Maktum Jauhari, dimana ketiganya merupakan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo.

“Kebetulan juga saya punya sepupu yang belajar di situ di pesantren Al-Amien, sehingga lebih memudahkan saya melanjutkan studi di pesantren tersebut. Di situlah saya merasakan ilmu yang saya pelajari di pesantren Sirojul Huda masih sangat minim, yang kemudian bisa saya kembangkan dan mantapkan di Ponpes Al-Amien Prenduan,” ujarnya mengisahkan.

“Di Al-Amien saya mengambil jalur Eksperimen (Takhasus/Ekstensi), dimana masa belajar yang seharusnya ditempuh dalam waktu 6 tahun, menjadi hanya 4 tahun saja, dan saya kemudian lulus pada tahun 1992,” tambahnya.

Tamat dari Al-Amien Kyai Sholihien kemudian melanjutkan pengabdian ke daerah yang lumayan jauh yaitu Sumatera Utara, tepatnya di Marindal Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deli Serdang. Di sana ada sebuah pesantren baru namanya Pesantren Al-Husna. “Saya bersama teman saya sama-sama pengabdian diminta untuk merintis dan membersamai pimpinannya membuka pesantren baru, yaitu Pesantren Al-Husna,” katanya.

Kyai dengan satu cucu ini melanjutkan, “Di situ kami belajar bagaimana mengembangkan pesantren dan mengabdi selama kurang lebih 2,5 tahun, sampai kemudian jumlah santrinya sudah lumayan banyak, dan saya kemudian pamit kembali lagi ke Jawa.”

Dari Sumatera, Kyai Sholihien memutuskan kembali ke kampung halaman masa kecilnya yaitu Kebumen Jawa Tengah. Cuma disana merasa ilmu yang ia dapatkan di pesantren tak mungkin bisa dikembangkan, karena di sana tidak ada sekolah atau pesantren. Alhasil, beliau kemudian memutuskan untuk merantau ke ibukota Jakarta, ikut temannya yang membuka toko di Kawasan Blok-M.

“Saya bantu-bantu teman jualan sampai tiga bulan atau lebih dikit, sampai suatu saat pas lagi bulan Ramadhan, dimana orang lain pada sibuk Tarawih dan seterusnya, saya masih sibuk ngurusin dagangan. Maka, kemudian saya sampaikan ke teman bahwa setelah Lebaran saya akan pulang dan tidak akan jualan lagi di Blok M,” cerita beliau.

Setelah di kampung, qadarullah beliau bertemu dengan salah seorang Depok yang punya putra sedang mengajar di pesantren di Kebumen. Akhirnya beliau berkenalan dan singkat cerita, orang tersebut menyarankan beliau untuk mengajar di Yayasan di Depok yang beliau termasuk salah satu pengurusnya. “Akhirnya sampailah saya ke Depok, tepatnya di al-Muhajirin Depok 2 Tengah,” ujarnya.

Sesampai di Depok Kyai Sholihien langsung mengajar sambil juga cari-cari pengalaman dengan mengamalkan ilmunya. Sampai suatu saat usai mengajar beliau mendapatkan kesempatan melanjutkan studi di LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Arab) milik kedutaan besar Arab Saudi, yang lokasinya saat itu masih di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.

Beliau pun ikut seleksi masuk LIPIA dan dinyatakan lulus program Diploma pada awal tahun 2000-an. Sambil kuliah Diploma di LIPIA beliau juga menempuh studi S1  di Sekolah Tinggi Ilmu Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Aqidah pada 2002 di daerah Kayu Manis Jakarta Timur, sampai lulus.

Kemudian pada tahun 2012 beliau mulai studi S2, program kerjasama antara LIPIA dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mengadakan pembelajaran kelas internasional dengan pengantar bahasa Arab dan dosen-dosennya dari Arab Saudi dan Indonesia yang alumni Arab Saudi. “Alhamdulillah saya bisa selesai studi S2 di UMS kelas internasional dengan menulis tesis berbahasa Arab berjudul “تطبيقات تأمين برودنشيال الشرعي في نظر الفقه اللإسلامي” (Praktek Asuransi Prudential Syariah dalam Pandangan Fiqih Islam),” tutur beliau.

Tidak berhenti sampai di situ, untuk lebih menyempurnakan ilmunya, Kyai Sholihien pun melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi yakni S3 atau doctoral, prodi Pendidikan Islam di Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor dan selesai pada tahun 2021 dengan disertasi berjudul :

طرائق التر بية الأخلاقية لحملة القرآن في المرحلة الإعدادية، دراسة تحليلية لكتاب كيف نتعامل مع القرآن للشيخ يوسف القرضاوي وتطبيقها في معهد السلطان الإسلام سنتول بوكور )

Dengan terjemahan (Metode-metode Pendidikan Akhlak bagi Para Penghafal Al-Qur’an pada Tingkat Menengah [Setara SMP], Sebuah Studi Analisis terhadap Kitab Kaifa Nata’amal Ma’a al-Qur’an karya Yusuf al-Qardhawi serta Penerapannya di Ma’had As-Sulthan Al-Islam Sentul, Bogor.) (dz/humas)

Penulis/Editor : Dhorifi Zumar

Foto : Tim Media & FB Kyai

Share This:

Leave a Reply