penerimaan santri baru

Gemerlap Fosma 7.0, Maha Karya Santri MQ, Menapak Jejak Membangun Peradaban

MQ Depok | Langit malam di atas Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Terpadu Madinatul Qur’an Depok tiba-tiba dipenuhi cahaya warna-warni. Kembang api melesat dan mekar di atas panggung, disambut sorak dan tepuk tangan para penonton.

Di bawahnya berdiri sebuah panggung berukuran superjumbo, sekitar 8 x 6 meter dengan ketinggian 7–8 meter. Megah, mencolok, dan membuat siapa pun yang melihatnya berdecak kagum.

Namun, ada satu hal yang membuat panggung itu terasa jauh lebih istimewa: panggung tersebut merupakan karya para santri Madinatul Qur’an yang sebagian besar masih berusia remaja.

Inilah malam puncak Fosma 7.0 (Festival of Santri Madinatul Qur’an) 2026, sebuah perhelatan yang tahun ini mengusung tema “Menapak Jejak Membangun Peradaban.”

Dari panggung inilah bakat para santri menemukan ruangnya. Potensi mereka menemukan jalannya. Dan kerja keras mereka selama mempersiapkan acara menjelma menjadi sebuah karya yang dapat disaksikan bersama.

 

Fosma Bukan Sekedar Pertunjukan

Pembukaan Fosma 7.0 diawali dengan pemutaran video yang mengantarkan penonton pada pesan besar malam itu bahwa peradaban tidak lahir secara tiba-tiba.

Narasi pembuka menegaskan bahwa di setiap langkah tersimpan harapan, di setiap perjuangan lahir sebuah cerita, dan setiap jejak yang ditinggalkan hari ini dapat menjadi awal bagi peradaban masa depan.

Pesan itu kemudian ditutup dengan kalimat yang menjadi ruh seluruh perhelatan: “Dan inilah Festival of Santri Madinatul Qur’an (Fosma 7.0), Menapak Jejak Membangun Peradaban.”

Seolah-olah panitia ingin mengatakan: Fosma bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah proses belajar. Belajar bekerja sama, berorganisasi, mencari solusi, mengelola acara, mengembangkan kreativitas, dan berani tampil di hadapan publik.

 

Dari Hadrah hingga Lompat Harimau

Setelah pembukaan, panggung Fosma langsung hidup. Tim Hadrah MQ membuka rangkaian penampilan dengan lantunan shalawat dan puji-pujian. Suasana kemudian berlanjut dengan tilawah Al-Qur’an yang dibawakan tiga santri: Dimas Rifqy Azhari kelas XI, Ismail Taqiya kelas X, dan Muhammad Izyan Alfarisi kelas IX.

Berikutnya, penonton disuguhi berbagai pertunjukan yang menunjukkan keberagaman bakat santri. Ada penampilan senam yang diperagakan delapan santri putra. Ada pidato Bahasa Indonesia dari santri kembar yang dikemas dengan pantun dan pesan-pesan menyentuh. Ada pantomim santri kelas X, serta penampilan musik dan nyanyian dari lima santri kelas VIII.

Tak berhenti di situ. Semaphore dari santri kelas IX, tarian tradisional Banten yang dibawakan enam santri putra, pembacaan puisi, penampilan lagu dari Wali Band, pidato Bahasa Inggris, hingga atraksi lompat harimau dari Tim Gaza MQ ikut membuat malam semakin meriah.

Sebuah rangkaian pertunjukan yang memperlihatkan bahwa santri tidak hanya memiliki kemampuan dalam bidang akademik dan tahfizh, tetapi juga memiliki ruang kreativitas yang luas.

 

Ketua Yayasan Memberikan Apresiasi Tinggi

Ketua Yayasan Madinatul Qur’an, KH. Dr. Sholihien Hadziq, memberikan apresiasi tinggi terhadap kreativitas para santri. Menurutnya, setelah mengikuti berbagai rangkaian kegiatan Fosma dan eMQi Icon, beliau melihat secara langsung bagaimana para santri mampu berkembang ketika diberi ruang untuk belajar melalui pengalaman.

Beliau menegaskan bahwa pendidikan di MQ bukan hanya diarahkan untuk melahirkan santri berprestasi dan penghafal Al-Qur’an. “Tapi hal ini sekaligus juga mengkonfirmasi bahwa di pesantren kita ini bukan hanya anak-anak diajari untuk berprestasi menjadi hafizh,” tuturnya.

Beliau kemudian menyebut capaian tahfizh dan akademik santri MQ sebagai bagian dari perkembangan tersebut. Dalam sambutannya, beliau juga menyampaikan bahwa para santri kelas XII memiliki capaian akademik yang tinggi dalam penerimaan perguruan tinggi negeri.

Namun, menurutnya, prestasi santri tidak boleh berhenti pada tahfizh maupun akademik. “Bukan hanya prestasi akademik, bukan hanya prestasi tahfizh, tapi juga prestasi-prestasi lainnya,” imbuhnya. Dan Fosma 7.0 menjadi salah satu buktinya.

 

Yang Dipelajari Bukan Hanya di Atas Panggung

Bagi KH. Sholihien, hal paling berharga dari Fosma bukan hanya pertunjukan yang terlihat oleh penonton. Ada proses panjang di belakang panggung. Para santri panitia harus mencari pembiayaan, menyusun agenda, mempersiapkan penampilan, hingga membangun panggung berukuran besar.

“Mereka, para santri panitia eMQi Icon dan Fosma itu sampai mencari biayanya, menyusun agendanya, dan membuat panggung penampilan yang luar biasa. Itu yang paling mahal, itu yang luar biasa,” ungkapnya.

Menurutnya, keterlibatan aktif para santri dalam kepanitiaan justru merupakan bentuk pembelajaran yang sesungguhnya. Mereka belajar bertanggung jawab. Belajar bekerja dalam tim. Belajar mengelola acara. Belajar menghadapi persoalan. Belajar berkomunikasi. Dan belajar bahwa sebuah karya besar tidak lahir dari satu orang. Atas semua proses tersebut, KH. Sholihien menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya kepada para santri.

Beliau bahkan membayangkan bahwa jika kelak mereka mendapatkan kesempatan mengelola event yang lebih besar, termasuk pada tingkat nasional, pengalaman yang diperoleh melalui kegiatan seperti Fosma dapat menjadi bekal penting.

 

Prakata Ketua Panitia Fosma dan eMQi Icon

Sementara itu Fahrishad Fairul, ketua panitia Fosma dan MQ Icon 2026, dalam prakatanya mengatakan, berdirinya saya di sini bukan sekedar sebagai ketua pelaksana melainkan sebagai saksi dari menyala semangat yang telah kita rakit bersama dalam Fosma 7.0 ini.

“Kita merajut niat dengan melangkah, dengan satu tekad menapak jejak membangun peradaban. Perjalanan ini dimulai ketika fajar menyapa bagaskara, menyinari langkah kita melalui panggung Fosma 7.0 ini,” ungkapnya.

“Waktu lalu kita menyaksikan para potensi siswa SD, SMP, SMA se-Jabodetabek terpancar menembus tantangan bumintara, membawa harum nama pesantren kita yang kita cintai ini. Kita melihat keagunggan Ilahi di bawah naungan lazuardi merenungi ilmu-ilmu hadits, ilmu-ilmu sains yang dibawakan oleh Prof Zulys waktu talkshow kemarin untuk menanam benih peradaban untuk masa depan, “ tambahnya.

Lebih lanjut dengan ungkapan yang puitis, ketua OSPMQ itu mengemukakan, kini di bawah pekat malam puncak yang dinaungi candramawa, perjuangan itu bermuara, sebuah kebahagiaan dan kebanggaan yang tak terhingga saat melihat seluruh lelah kita bertransformasi menjadi maha karya bersama.

“Jejak telah kita tapaki namun peradaban belum selesai kita bina, semoga jejak yang kita tinggalkan dalam Fosma tahun ini menjadi fondasi kokoh bagi lahirnya generasi qurani yang siap mencerahkan dunia. Oleh karena itu kami berterimakasih kepada seluruh pihak yang telah melangitkan doa dan mencurahkan tenaganya. Sebab karya besar tidak akan pernah lahir dari satu nama, melainkan dari ribuan doa dan ketulusan tangan yang bekerja dalam diam,” tuturnya.

 

Pesan Alumni Kepada Adik-adiknya

Malam puncak Fosma juga menjadi semakin istimewa dengan hadirnya perwakilan alumni MQ, Bani Muhibbin, alumni angkatan ke-3 yang kini menjadi mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Kepada para santri, ia menyampaikan salam dan rasa bangga dari para alumni. Kembali ke Madinatul Qur’an, menurut Bani, seperti membuka kembali lembaran masa lalu. Tempat yang dahulu digunakan untuk belajar, mengaji, menghafal, berdiskusi, bercanda, bahkan menerima teguran dari ustadz, setelah ditinggalkan justru terasa memiliki makna yang lebih besar.

Madinatul Qur’an, katanya, telah memberikan lebih dari sekadar ilmu: nilai, kebiasaan, persaudaraan, dan bekal kehidupan. “Jangan Hanya Bercita-Cita Sukses, Jadilah Orang yang Bermanfaat,” tuturnya.

Bani kemudian mengajak para santri merenungkan makna tema Fosma 7.0. Menapak Jejak, menurutnya, berarti generasi hari ini tidak benar-benar memulai dari nol. Ada guru, orang tua, ulama, dan generasi sebelumnya yang telah meninggalkan teladan dan membangun fondasi. Sementara Membangun Peradaban berarti meneruskan perjalanan itu dengan membangun diri sejak sekarang.

Ketika santri belajar Al-Qur’an, mereka sedang membangun diri. Ketika belajar ilmu agama, mereka membangun cara berpikir. Ketika belajar ilmu pengetahuan, mereka mempersiapkan masa depan. Ketika menjaga disiplin, adab, dan menghormati guru serta teman, mereka sedang membangun karakter. Dan karakter itulah yang kelak menjadi modal untuk membangun masyarakat dan peradaban.

Pesan Bani pun sangat kuat, “Jangan hanya bercita-cita menjadi orang sukses, bercita-citalah menjadi orang yang bermanfaat.” Sebab, ukuran keberhasilan bukan hanya seberapa tinggi seseorang berdiri, tetapi seberapa banyak manfaat yang dapat diberikan ketika ia berada di atas.

Bagi Bani, Fosma juga memiliki makna lain yang tidak kalah penting: mempertemukan generasi. Ada generasi yang sedang belajar, generasi yang sedang berproses, dan generasi yang telah lebih dahulu meninggalkan pesantren. Pertemuan itu membuat Madinatul Qur’an tetap menjadi sebuah rumah yang hidup.

Para alumni mungkin sudah tidak duduk di kelas yang sama, tidak lagi tinggal dalam lingkungan yang sama, tetapi nilai-nilai yang pernah diperoleh di MQ tetap mereka bawa ke mana pun mereka melangkah. Karena itu, Bani mengajak para santri menikmati masa-masa mereka di pesantren.

Kelak ketika meninggalkan MQ, hal-hal yang sekarang terasa sederhana—duduk bersama teman, mendengar nasihat guru, mengaji bersama, dan bercanda di sela-sela kegiatan—bisa berubah menjadi kenangan yang sangat berharga.

 

Hadiah Cinta dari OSPMQ untuk Almamater

Ada satu momen lain yang juga menarik perhatian pada malam tersebut. Panitia memberikan cinderamata kepada pihak sponsor. Selain itu, secara simbolis diserahkan pula wakaf OSPMQ periode 2025–2026 kepada Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Terpadu Madinatul Qur’an berupa satu paket perangkat sound system.

Mewakili pihak pesantren, Kyai Ghufron menyampaikan bahwa pemberian tersebut bukan sekadar benda. “Ini bukan hanya sekadar pemberian fisik, tapi ini pemberian cinta, loyalitas, dan pengabdian kepada almamaternya. Mudah-mudahan nak kalian menjadi orang-orang yang hebat, menjadi generasi besar di kemudian hari,” ungkapnya.

Sebuah pesan sederhana, tetapi bermakna: santri boleh pergi meninggalkan pesantren untuk melanjutkan pendidikan dan mengejar cita-cita, tetapi hubungan dengan almamater tidak harus berakhir.

 

Puluhan Sponsor, Satu Karya Bersama

Kesuksesan Fosma 7.0 juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Panitia menyampaikan apresiasi kepada para sponsor, donatur, dan muhsinin yang mendukung terselenggaranya rangkaian kegiatan. Dalam data panitia, terdapat sekitar puluhan sponsorship, di antaranya PT Pupuk Kaltim, PT Bintang Sempurna, Pupuk Indonesia Tbk, Saventra, Syanana, XLSmart, Sangkar Karya Cipta, PT MJK, Sister Kitchen 55, BSI, WingsFood, PT Cemani Toka, HNI, ZIS, MediaScope, dan pihak lainnya.

Fahrishad mengatakan, acara ini tidak akan terlaksana tanpa arahan dan bimbingan yang tak terhenti dari para pembina. Terimakasih atas ketulusan membimbing hingga detik ini. Rasa terimakasih yang mendalam juga saya haturkan kepada panitia yang telah menguras tenaga, pikiran serta waktu tanpa kenal lelah, serta tak lupa apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para pihak sponsorship yang telah memberi kepercayaan kepada kami secara penuh, menjadi bagian dari bahan bakar terselenggaranya Fosma tahun ini.

Malam puncak pada Sabtu malam, 12 September 2026 tersebut dipandu oleh tiga pembawa acara: Kafi Alkhaira Martha dalam Bahasa Arab, Gavin Omar Elvaro dalam Bahasa Inggris, dan Rusfaidhil Al Wafie dalam Bahasa Indonesia akhirnya diakhiri dengan doa yang dipimpin KH. Dr. Rachmat Morado Sugiarto, Lc., MA. (Al-Hafizh), Mudir Tahfizh Madinatul Qur’an Depok.

Dari Panggung Santri untuk Masa Depan

Fosma 7.0 akhirnya bukan hanya tentang panggung besar, kembang api, musik, hadrah, puisi, pidato, semaphore, tari, pantomim, atau atraksi lompat harimau.

Di balik semua itu terdapat proses pendidikan yang jauh lebih besar. Ada santri yang belajar memimpin. Ada yang belajar berbicara. Ada yang belajar mengelola keuangan. Ada yang belajar mencari sponsor. Ada yang belajar menyusun acara. Ada yang belajar bekerja dalam tim. Ada yang belajar bertanggung jawab ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

Dan semuanya bermuara pada satu tujuan: mempersiapkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, beriman, terampil, kreatif, dan mampu memberi manfaat. (Humas Madinatul Qur’an Depok)

 

Editor : Dhorifi Zumar

Foto : Istimewa

Share This:

Leave a Reply