penerimaan santri baru

MQ Depok Siap Launching Transformasi Akademik, Demi Kuatkan Penguasaan Al-Qur’an dan Teknologi Santri

MQ Depok | Kemajuan teknologi yang berkembang sangat cepat menuntut umat Islam untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu menguasai dan mengembangkan teknologi. Di sisi lain, penguasaan teknologi tetap harus berjalan beriringan dengan kedekatan terhadap Al-Qur’an.

Pesan tersebut disampaikan Ustadz Purwanto Abdul Ghaffar, Ketua Dewan Pembina Yayasan Sekolah Tahfidz Fahim Qur’an (STFQ) Plus Bogor, saat hadir silaturahmi di Pesantren Madinatul Qur’an Depok, Rabu, 9 September 2026.

Dalam presentasinya, Ustadz Purwanto mengangkat persoalan yang menurutnya menjadi salah satu tantangan besar umat Islam saat ini, yakni lemahnya penguasaan terhadap ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi. Ia mengajak para santri untuk melihat persoalan tersebut secara lebih luas, bukan semata-mata dari perspektif pendidikan agama, tetapi juga dari sisi peradaban.

 

Tiga Persoalan Besar Umat

Mengawali paparannya, Ustadz Purwanto menyinggung sejumlah data dan indikator pembangunan serta perdamaian dunia. Ia merujuk pada Global Peace Index (GPI) untuk menggambarkan posisi sejumlah negara dalam berbagai indikator yang berkaitan dengan kedamaian dan keamanan.

Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya menjadi bahan renungan bagi umat Islam. Ia mempertanyakan mengapa umat yang memiliki Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan belum mampu sepenuhnya menghadirkan kualitas kehidupan yang lebih baik.

Ia kemudian menyebut tiga persoalan yang menurut para pemikir peradaban menjadi penyakit umat Islam, yaitu jauh dari Al-Qur’an, jauh dari ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, serta lemahnya ukhuwah.

“Para ulama pemikir peradaban pernah bilang, bahwa ada tiga penyakit kaum Muslim, yaitu yang pertama jauh dari Al-Qur’an, yang kedua jauh dari ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, dan yang ketiga, ukhuwah lemah,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan tersebut perlu dijawab dengan membangun kembali kualitas umat melalui pendidikan yang menyatukan kekuatan spiritual, intelektual, dan teknologi.

Al-Qur’an sebagai Fondasi

Dalam konteks pesantren tahfizh, Ustadz Purwanto memberikan perhatian khusus terhadap posisi Al-Qur’an.

Ia menyampaikan bahwa kedekatan umat dengan Al-Qur’an merupakan salah satu fondasi penting bagi kebangkitan peradaban Islam. Ia juga mengutip pandangan sejumlah ulama yang menjadikan jumlah penghafal Al-Qur’an sebagai salah satu indikator kedekatan umat dengan kitab sucinya.

Ustadz Purwanto kemudian membandingkan kondisi umat Islam saat ini dengan gambaran masyarakat Muslim pada masa awal Islam yang ia sampaikan berdasarkan kajian sejarah dan sirah. Menurutnya, kuatnya interaksi dengan Al-Qur’an merupakan salah satu faktor yang membentuk kualitas generasi Muslim pada masa tersebut.

“Orang yang paling massif interaksi dengan Al-Qur’an itu adalah para penghafal Al-Qur’an,” katanya.

Bagi Ustadz Purwanto, persoalannya bukan memilih antara Al-Qur’an atau ilmu pengetahuan. Justru keduanya harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam pendidikan generasi Muslim.

Jangan Terjebak pada Dikotomi Ilmu

Ustadz Purwanto juga mengkritisi kecenderungan pendidikan yang memisahkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern secara terlalu tajam.

Ia menyinggung fenomena pembahasan keislaman yang menurutnya sering lebih banyak berkutat pada perbedaan dan persoalan khilafiyah, sementara pembahasan tentang sejarah, ekonomi, teknologi, dan kondisi generasi Muslim belum mendapat perhatian yang seimbang.

Menurutnya, umat Islam perlu kembali membangun tradisi keilmuan yang luas. Ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi tidak semestinya dipandang sebagai sesuatu yang berada di luar kepentingan umat Islam.

Justru, penguasaan terhadap ilmu-ilmu tersebut diperlukan agar umat mampu menghadapi perubahan zaman dan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan secara mandiri.

“Punya Sumber Daya Saja Tidak Cukup”

Untuk memperkuat argumennya, Ustadz Purwanto mengangkat contoh penguasaan sumber daya alam dan teknologi. Ia membandingkan kondisi sejumlah negara Muslim yang memiliki kekayaan sumber daya alam dengan negara-negara yang memiliki penguasaan teknologi lebih kuat.

Dalam konteks Indonesia, ia mencontohkan sektor minyak. Menurutnya, kepemilikan sumber daya alam tidak otomatis membuat sebuah negara unggul apabila tidak dibarengi kemampuan teknologi untuk mengelolanya.

“Walaupun kita punya minyak, tapi kalau kita tidak punya teknologi percuma. Justru kalau punya teknologi, kita tidak punya apa-apa, kita banyak duitnya,” tuturnya.

Pesan yang ingin ditekankannya adalah bahwa sumber daya tanpa penguasaan teknologi dapat membuat sebuah bangsa tetap bergantung kepada pihak lain.

IT Bukan Sekadar untuk Mencari Uang

Bagian yang cukup kuat dalam presentasinya tersebut adalah ketika Ustadz Purwanto berbicara mengenai pendidikan teknologi bagi santri.

Menurutnya, pembelajaran teknologi jangan hanya diarahkan agar seseorang mendapatkan pekerjaan atau menghasilkan uang. Lebih jauh dari itu, kemampuan teknologi harus ditanamkan sebagai bagian dari tanggung jawab generasi Muslim dalam menghadapi masa depan.

“Anak-anak perlu ‘dibakar’ semangatnya… jadi mereka belajar teknologi itu ibadah, bukan untuk nyari duit,” tegasnya.

Karena itu, ia mendorong agar pendidikan teknologi ditempatkan secara strategis dalam kurikulum pendidikan Islam.

Ia menekankan bahwa santri tidak cukup hanya memiliki kemampuan membaca, menghafal, dan memahami Al-Qur’an. Mereka juga perlu dibekali kemampuan matematika, pemrograman, teknologi informasi, serta berbagai keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman.

Masa Depan Membutuhkan Generasi Melek Teknologi

Ustadz Purwanto kemudian menggambarkan bagaimana teknologi semakin masuk ke berbagai bidang kehidupan, termasuk kesehatan, kedokteran, pendidikan, hingga dunia kerja.

Ia mencontohkan perkembangan robot bedah, teknologi medis, perangkat bionik, hingga berbagai teknologi yang memungkinkan manusia mendapatkan bantuan mesin dalam melakukan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan kemampuan manusia secara langsung.

Perubahan tersebut, menurutnya, akan membawa konsekuensi besar terhadap dunia pekerjaan. Sebagian profesi dapat berkurang atau berubah, tetapi pada saat yang sama akan muncul profesi-profesi baru yang membutuhkan kemampuan teknologi.

Karena itu, ia mengingatkan bahwa generasi Muslim harus bersiap menghadapi perubahan tersebut.

“Kelak akan ada 85 juta profesi yang akan hilang, tapi akan ketemu 95 juta profesi baru yang akan lahir. Tapi profesi ini mutlak membutuhkan pengetahuan IT,” ujarnya dalam paparannya.

Dua Ilmu yang Harus Menjadi Prioritas

Di bagian akhir paparannya, Ustadz Purwanto merumuskan gagasan yang sederhana tetapi kuat: apa pun cita-cita seorang Muslim, Al-Qur’an dan teknologi harus menjadi bagian dari bekalnya.

Ia menekankan pentingnya membaca, menghafal, dan memahami Al-Qur’an. Bersamaan dengan itu, generasi Muslim juga perlu serius mempelajari teknologi informasi.

“Kita mau jadi apapun wajib belajar Al-Qur’an. Wajib baca, wajib menghafal, wajib memaknai. Dan kita mau cita-cita apapun wajib belajar IT, jadi dua ilmu ini yang harus kita gelar dengan sangat baik,” tegasnya.

Gagasan tersebut menjadi relevan bagi dunia pesantren yang sedang mempersiapkan generasi untuk menghadapi masa depan. Pendidikan tahfizh tidak harus berhadapan dengan teknologi, tetapi dapat berjalan berdampingan dengan penguasaan sains dan teknologi.

Dengan fondasi Al-Qur’an yang kuat, santri diharapkan mampu memasuki berbagai bidang profesional tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai keislamannya.

Infrastruktur Juga Harus Disiapkan

Tak berhenti pada gagasan, Ustadz Purwanto juga menyinggung aspek praktis dalam penerapan pembelajaran IT di lembaga pendidikan.

Menurutnya, salah satu indikator awal yang perlu diperhatikan adalah infrastruktur, terutama kualitas jaringan internet. Pembelajaran IT, katanya, membutuhkan koneksi internet yang cepat dan stabil.

“Kalau mau menggelar mapel IT kemudian internetnya sering mati, ya selesai,” ujarnya disambut tawa.

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa transformasi pendidikan teknologi tidak cukup hanya dengan menambahkan mata pelajaran. Infrastruktur, kurikulum, tenaga pendidik, dan pola pembelajaran juga harus dipersiapkan secara serius.

Menyiapkan Santri Menghadapi Zaman

Kehadiran Ustadz Purwanto Abdul Ghaffar di Madinatul Qur’an Depok menjadi momentum penting untuk membuka wawasan santri tentang tantangan pendidikan, teknologi dan peradaban di masa depan. Dan memasuki tahun ajaran 2026-2027 MQ Depok akan melakukan transformasi akademik sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pembelajaran dan daya saing para santri, dengan memberikan perhatian yang lebih besar pada mapel teknologi dan sains.

Pesan yang mengemuka jelas: menjadi generasi Qur’ani bukan berarti menjauh dari perkembangan zaman. Sebaliknya, nilai-nilai Al-Qur’an dapat menjadi fondasi bagi generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan demikian, santri tidak hanya dipersiapkan menjadi pribadi yang dekat dengan Al-Qur’an, tetapi juga memiliki kemampuan untuk membaca perubahan zaman, menguasai teknologi, dan menghadirkan solusi bagi masyarakat.

Al-Qur’an menjadi kompas. Teknologi menjadi alat. Dan ilmu menjadi jalan untuk menghadirkan kemanfaatan…insyaAllah !!! (Humas Madinatul Qur’an Depok)

 

Editor : Dhorifi Zumar

Foto : Istimewa

Share This:

Leave a Reply