MQ Depok | Belajar di pesantren bukan hanya tentang menghafal Al-Qur’an dan mengikuti pembelajaran di dalam kelas. Di luar kegiatan akademik dan kepesantrenan, para santriwati juga membutuhkan ruang untuk mengeksplorasi minat, mengembangkan bakat, melatih kreativitas, serta menemukan potensi dirinya.
Kesadaran itulah yang mendorong Pesantren Putri Madinatul Qur’an (MQ) Depok menyediakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler pilihan. Saat ini terdapat tiga ekskul pilihan yang dapat diikuti para santriwati, yaitu memanah, menyulam, dan Bahasa Jepang.

Sebelumnya, ekskul pilihan yang tersedia hanya memanah dan menyulam. Kehadiran Bahasa Jepang kemudian menambah pilihan bagi santriwati untuk mengembangkan kemampuan di bidang bahasa asing.
Penanggungjawab Ekskul Pesantren Putri MQ, Ustadzah Kintan Dwi Banowati, menjelaskan bahwa ketiga ekskul tersebut dipilih karena memiliki manfaat yang berbeda dan dapat menjadi wadah bagi santriwati untuk mengembangkan minat serta bakat masing-masing.
“Memanah dapat melatih fokus, konsentrasi, ketenangan, kedisiplinan, dan ketepatan. Menyulam dapat mengembangkan kreativitas, kesabaran, ketelitian, dan keterampilan tangan. Sedangkan Bahasa Jepang dapat menambah wawasan serta kemampuan santriwati dalam mempelajari bahasa asing,” ungkapnya.

Tiga Pilihan, Tiga Karakter Keterampilan
Ketiga ekskul tersebut memiliki karakter yang berbeda. Memanah mengajarkan santriwati untuk mengendalikan diri sebelum melepaskan anak panah. Dibutuhkan fokus, konsentrasi, ketenangan, kesabaran, sekaligus ketepatan. Dengan demikian, olahraga ini bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga latihan mental dan kedisiplinan.
Sementara menyulam memberikan ruang bagi santriwati yang memiliki ketertarikan pada dunia seni dan kreativitas. Dari benang dan berbagai pola, mereka belajar menghasilkan sebuah karya melalui proses yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keterampilan tangan.

Adapun Bahasa Jepang memberikan pengalaman yang berbeda. Santriwati diperkenalkan dengan bahasa dan budaya baru sekaligus mendapatkan kesempatan untuk menambah kemampuan bahasa asing, selain bahasa Arab dan Inggris, yang dapat menjadi bekal mereka di masa mendatang.
Secara umum, peminat ketiga ekskul tersebut cukup baik. Ketertarikan santriwati pun beragam sesuai dengan minat dan karakter masing-masing.

Setiap Ahad, Dua Jam Mengasah Potensi
Ketiga ekskul dilaksanakan secara rutin setiap hari Ahad, dengan durasi kurang lebih dua jam dalam setiap pertemuan. Jadwal tersebut disesuaikan dengan agenda kepesantrenan sehingga kegiatan ekstrakurikuler dapat berjalan optimal tanpa mengganggu kegiatan utama para santriwati.
Untuk menjaga kualitas pembinaan, seluruh pelatih didatangkan dari luar pesantren dan memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing.
Terdapat satu pelatih Bahasa Jepang, satu pelatih menyulam, dan empat pelatih memanah, sehingga secara keseluruhan terdapat enam orang pelatih yang terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler pilihan tersebut.

Memanah Jadi Ekskul Paling Diminati
Dari ketiga pilihan yang tersedia, memanah menjadi ekskul yang paling banyak diminati. Pesertanya berasal dari santriwati kelas VII hingga kelas X. Menurut Ustazah Kintan, tingginya minat terhadap memanah tidak terlepas dari karakter kegiatan yang memberikan pengalaman berbeda dibandingkan aktivitas pembelajaran sehari-hari.
“Banyaknya peminat memanah karena kegiatan ini cukup menarik bagi santriwati dan memberikan pengalaman yang berbeda dari kegiatan pembelajaran sehari-hari. Selain itu, memanah tidak hanya menjadi aktivitas fisik, tetapi juga melatih fokus, konsentrasi, kesabaran, ketenangan, dan kedisiplinan. Hal tersebut membuat santriwati merasa tertantang sekaligus tertarik untuk mempelajarinya,” tuturnya.

Menariknya, olahraga memanah juga mengajarkan satu hal penting: tidak semua anak panah bisa langsung tepat sasaran. Ada proses belajar, mencoba, memperbaiki posisi, mengatur konsentrasi, kemudian mencoba kembali. Nilai-nilai seperti itulah yang secara tidak langsung dapat membentuk karakter santriwati dalam kehidupan sehari-hari.
Antusiasme Santriwati Terus Tumbuh
Secara umum, Ustadzah Kintan melihat antusiasme santriwati terhadap ketiga ekskul tersebut cukup baik. Hal itu terlihat dari keaktifan mereka selama kegiatan berlangsung serta kesediaan mengikuti arahan dari para pelatih. Meskipun masing-masing ekskul memiliki karakter peserta yang berbeda, ketiganya mendapatkan respons positif.
Bagi sebagian santriwati, kegiatan tersebut mungkin berawal dari sekadar rasa ingin tahu. Namun, dengan latihan yang rutin dan pendampingan yang baik, minat tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi keterampilan yang benar-benar dikuasai. Karena itu, ekskul di Pesantren Putri MQ tidak diarahkan sekadar menjadi kegiatan pengisi waktu luang.

Bukan Sekadar Ekskul, tetapi Ruang Menemukan Potensi
Menurut Ustadzah Kintan, tujuan utama penyelenggaraan ketiga ekskul tersebut adalah memberikan ruang kepada santriwati untuk mengembangkan minat, bakat, kreativitas, keterampilan, kemandirian, dan kepercayaan diri di luar kegiatan pembelajaran formal. Targetnya pun lebih jauh daripada sekadar membuat santriwati hadir dan mengikuti kegiatan.
Santriwati diharapkan benar-benar mendapatkan keterampilan yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Dengan demikian, masing-masing anak dapat menemukan potensi dirinya dan mengembangkannya menjadi sesuatu yang positif serta bermanfaat.

Dalam konteks pendidikan pesantren, pendekatan semacam ini penting. Sebab, setiap santriwati memiliki keunikan, minat, dan potensi yang berbeda. Ada yang menemukan dirinya melalui olahraga, ada yang melalui seni dan keterampilan, sementara yang lain berkembang melalui bahasa dan komunikasi.
Dari Hobi Menjadi Prestasi
Ke depan, Ustadzah Kintan berharap ketiga ekskul tersebut dapat terus berkembang dan benar-benar menjadi wadah yang mampu mengoptimalkan potensi para santriwati.
Ia berharap kegiatan semakin terarah, fasilitas semakin mendukung, dan kualitas pelatihan terus meningkat. Dengan demikian, santriwati tidak hanya mendapatkan pengalaman selama mengikuti ekskul, tetapi juga mampu menunjukkan hasil nyata dari keterampilan yang telah mereka pelajari.

“Harapannya dari ekskul-ekskul tersebut dapat muncul prestasi, karya, dan keterampilan yang menjadi bekal bagi santriwati, sekaligus dapat membawa nama baik pesantren,” harapnya.
Dari busur dan anak panah, santriwati belajar fokus dan ketenangan. Dari benang dan sulaman, mereka belajar ketelitian dan kreativitas. Dari bahasa Jepang, mereka membuka jendela menuju bahasa dan budaya dunia.
Tiga ekskul, tiga karakter keterampilan—namun satu tujuan yang sama: membantu setiap santriwati MQ menemukan potensinya, mengasahnya dengan tekun, dan menjadikannya bekal untuk masa depan. (Humas Madinatul Qur’an Depok)

Editor : Dhorifi Zumar (DZ)
Foto : Media Putri MQ