penerimaan santri baru

Tingkatkan Profesionalisme Musyrif & Musyrifah, Pesantren MQ Gelar Upgrading Tahfizh

MQ Depok | Menjadi seorang musyrif dan musyrifah tahfizh tidak cukup hanya dengan memiliki hafalan Al-Qur’an yang baik. Seorang musyrif-musyrifah juga dituntut memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan benar, memahami metode pembinaan tahfizh, mampu mengelola halaqah, serta memiliki adab dan profesionalisme sebagai guru Al-Qur’an.

Atas dasar itulah, Pesantren Madinatul Qur’an (MQ) Depok menggelar Upgrading Tahfizh bagi para musyrif & musyrifah pada Selasa, 22 September 2026. Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–11.30 WIB tersebut diikuti oleh 43 orang.

Kepala Kepesantrenan Putra MQ Depok, Ustadz Faariq Robiith Al-Khuwarizmi, S.Pd., Lc., M.Pd., mengatakan bahwa upgrading merupakan kegiatan rutin tahunan yang dirancang sebagai sarana peningkatan kapasitas para musyrif maupun musyrifah.

Menurutnya, kegiatan tersebut bertujuan memberikan pelatihan sekaligus meningkatkan skill para musyrif-musyrifah, khususnya dalam membaca Al-Qur’an dan manajemen halaqah, sehingga mereka mampu menjalankan tugas pembinaan secara lebih profesional.

“Upgrading ini bertujuan memberikan pelatihan dan meningkatkan skill para musyrif-musyrifah dalam membaca Al-Qur’an serta managerial halaqah agar menjadi musyrif-musyrifah yang profesional,” jelas Ustadz Faariq.

 

Bekali Musyrif/Musyrifah dengan Adab dan Kompetensi Guru Al-Qur’an

Untuk memberikan pembekalan, Unit Kepesantrenan MQ menghadirkan KH. Dr. Rachmat Morado, Lc., M.A., Al-Hafizh, selaku Mudir Tahfizh MQ Depok.

Dalam pemaparannya, Kyai Morado membahas sejumlah aspek penting yang harus dimiliki seorang guru Al-Qur’an. Tidak hanya menyangkut kemampuan teknis membaca Al-Qur’an, tetapi juga adab dan profesionalisme seorang guru Qur’an.

Para musyrif-musyrifah juga mendapatkan pendalaman mengenai makhraj dan shifatul huruf. Dua aspek tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas bacaan Al-Qur’an para santri, sekaligus menjadi bekal bagi musyrif-musyrifah ketika melakukan pembinaan dan koreksi bacaan.

Selain itu, materi juga diarahkan pada bagaimana cara memperbaiki bacaan santri secara efektif. Seorang musyrif-musyrifah tidak hanya dituntut mampu menemukan kesalahan bacaan, tetapi juga perlu mengetahui cara menyampaikan koreksi agar mudah dipahami dan diterima oleh santri.

Dengan demikian, upgrading tidak berhenti pada peningkatan kemampuan personal musyrif/musyrifah, tetapi juga diarahkan pada peningkatan kualitas layanan pembinaan tahfizh kepada para santri.

Santri yang Lambat Menghafal hingga Kepercayaan Diri Muhafizh

Suasana kegiatan semakin hidup ketika memasuki sesi diskusi dan tanya jawab. Para peserta tidak hanya menyimak materi, tetapi juga aktif menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam menjalankan tugas sebagai pembimbing tahfizh.

“Alhamdulillah peserta sangat antusias mengikuti acara, yang ditandai dengan beberapa pertanyaan yang diberikan kepada pemateri,” ujar Ustadz Faariq.

Beberapa pertanyaan yang muncul sangat dekat dengan problematika yang dihadapi para musyrif-musyrifah dalam keseharian.

Salah satunya berkaitan dengan bagaimana menghadapi santri yang memiliki keinginan kuat untuk menghafal Al-Qur’an, tetapi kemampuan menghafalnya relatif lambat. Pertanyaan tersebut menjadi penting karena setiap santri memiliki kemampuan, karakter, dan kecepatan belajar yang berbeda-beda.

Pertanyaan lain menyentuh aspek psikologis dan profesionalisme seorang muhafizh, yakni bagaimana agar seorang muhafizh memiliki kepercayaan diri dan tidak merasa “kalah” dengan santri.

Selain itu, muncul pula pertanyaan mengenai lisensi atau sertifikasi guru Al-Qur’an, termasuk apakah seorang guru Qur’an memerlukan lisensi tertentu dalam menjalankan tugasnya.

Beragam pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa tantangan menjadi musyrif-musyrifah tahfizh tidak hanya berkaitan dengan hafalan, tetapi juga menyangkut kemampuan pedagogis, komunikasi, pengelolaan halaqah, serta kesiapan mental dalam mendampingi santri.

 

Membangun Musyrif-Musyrifah yang Terampil dan Profesional

Kegiatan Upgrading Tahfizh ini menjadi salah satu ikhtiar Pesantren Madinatul Qur’an Depok untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berada di garda depan pembinaan santri.

Musyrif dan musyrifah memiliki posisi penting dalam kehidupan santri di pesantren. Mereka tidak hanya mendampingi proses hafalan, tetapi juga berinteraksi dengan santri dalam keseharian, memberikan motivasi, melakukan pembinaan, sekaligus menjadi salah satu figur yang menjadi contoh bagi para santri.

Karena itu, peningkatan kompetensi musyrif-musyrifah secara berkala menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas program tahfizh di lingkungan MQ Depok.

Ustadz Faariq berharap kegiatan upgrading seperti ini dapat terus dilaksanakan secara rutin setiap tahun. “Harapannya acara seperti upgrading ini dapat berjalan setiap tahunnya agar menjadi wadah bagi para musyrif untuk meningkatkan skill mereka,” ungkapnya.

Dengan adanya kegiatan tersebut, diharapkan para musyrif-musyrifah Pesantren MQ Depok semakin siap menjalankan amanahnya sebagai pembimbing, pendidik, sekaligus teladan dalam pembelajaran Al-Qur’an, sehingga pembinaan tahfizh di MQ Depok dapat terus berkembang dan memberikan hasil yang semakin baik. (Humas Madinatul Qur’an Depok)

Editor : Dhorifi Zumar (DZ)

Foto : M. Ahsani Taqiya, Media Kepesantrenan

Share This:

Leave a Reply