MQ Depok | Rombongan pimpinan pesantren tahfizh Madinatul Qur’an Depok yang berjumlah 15 orang melakukan kunjungan muhibbah dalam rangka studi banding ke pondok pesantren Husnul Khotimah (HK) Kuningan Jawa Barat, pada Senin 20 Januari 2025 lalu, dan dilanjutkan esoknya (21 Januari) ke Ponpes Baitul Qur’an (BQ) Cirata Purwakarta.
Rombongan tersebut terdiri dari KH. Dr. Sholihien Hadziq, M.HI, Ketua Yayasan; KH. Zainal Muttaqien, Sekretaris Yayasan; Habib Ir Abud Haris, Bendahara Yayasan; KH. Ghufron Hasan, M.I.Kom, Pengasuh Pesantren; dan Ust Ayat Bahrul, M.Pd, Direktur Pesantren.
Berikutnya, Ust. Wardi, S.Pd.I, Direktur Pembinaan; Ust Dhorifi Zumar, S.Ag, Direktur Humas; Ust Muhammad Haekal, M.Pd, Kepala Penjamin Mutu Lulusan; Ust Suriyanto, MM, Kepala SMA TQT MQ; Ust Aceng Hayatul Mubarok, M.Ag, Kepala SMP TQT MQ; Ust Agus Miftah Farid, S.Pd, Kepala Kepesantrenan Putra; dan Ustadzah Yani Supriyani, S.Pd, Kepala Kepesantrenan Putri. Selanjutnya, Ust Irpan Abdul Maulana, S.Pd, Stafsus Dirpen; Ust Hasan Basri, Kepala Sarpras, dan Ust Saepul Kudus, Kepala MQMart.


Rombongan pimpinan MQ tiba di kompeks Ponpes HK-1 sekitar pukul 08.30 WIB dan disambut hangat dan penuh kekeluargaan oleh KH. Mu’tamad, Lc, M.Pd, Al-Hafidz, Ketum Yayasan HK; didampingi Kyai Mulyadin, Lc, M.H, Mudir Pondok HK-1; KH. Imam Nur Suharno, M.Pd, Kepala bidang Humas dan Dakwah Ponpes HK-1; Ust. Nur Hasan, anggota pimpinan Humas HK, dan staf lainnya.
Setelah itu rombongan MQ diajak langsung memasuki ruang pertemuan atau meeting yang berada di lantai 1 kantor Humas dan Dakwah HK. Setelah memperkenalkan masing2 pimpinan yang hadir, acara dilanjutkan dengan presentasi seputar sejarah atau profil Ponpes HK Kuningan dan perkembanganannya hingga saat ini, kemudian dilakukan dialog atau tanya-jawab.
Ponpes Husnul Khotimah Kuningan, kata KH. Mu’tamad, Lc, M.Pd, Al-Hafidz, berdiri pada tanggal 2 Mei 1994 di atas lahan seluas 6 hektar (ha) di desa Maniskidul Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan. Pendirinya adalah KH. Sahal Suhana, SH, seorang pegawai Pemda DKI Jakarta yang kemudian memilih resign dini untuk selanjutnya aktif di kegiatan dakwah dan tarbiyah.

“Beliau awalnya memiliki lahan seluas 3 hektar di desa tersebut yang kemudian diwakafkan dan mengajak keluarga besar H. Ibrahim Sukanta untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam yang berkualitas sebagai kontributor terdepan dalam mencetak kader dai, yang kemudian dinamai pondok pesantren Husnul Khotimah. Dengan harapan para pendirinya dan santri serta keluarga besarnya kelak kembali ke haribaan Allah dalam keadaan Husnul Khotimah,” ungkannya.
Jenjang Pendidikan yang ada di Ponpes HK adalah Madrasah Tsanawiyah (MTs) setingkat SMP dan Madrasah Aliyah (MA) setingkat SMA, dibawah pembinaan Kementerian Agama (Kemenag). Jumlah santrinya saat ini sebanyak 4.211 orang dari berbagai penjuru Nusantara dan luar negeri, seperti Malaysia dan Thailand. Dan telah meluluskan 8.146 alumni yang tersebar di berbagai universitas di dalam dan luar negeri.
Target hafalan Al-Qur’an di MTs Husnul Khotimah Kuningan adalah minimal 2,5 Juz, sedangkan target hafalan di MA Husnul Khotimah adalah minimal 5 Juz Al-Qur’an dan 42 Hadits (Hadits Arbain). Tapi bagi santri yang menginginkan hafalan lebih, hingga 30 juz, disediakan kelas Takhassus, tapi ini hanya pilihan tidak diwajibkan.
Tenaga pendidik HK yang berjumlah sekitar 500 orang sebagian besar berasal dari alumni Universitas Islam Madinah (UIM), Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, Universitas Al-Ahqof Yaman, Universitas Al-Khartoum Sudan, LIPIA Jakarta, ITB Bandung, UI Depok, UNPAD Bandung, UNSOED Purwokerto, UNDIP Semarang, UPI Bandung, UIN Jakarta, UNILA Lampung, dan sebagainya.


Ponpes HK Kuningan memiliki dua Lokasi kampus, yaitu kampus satu atau HK-1 yang berlokasi di desa Maniskidul Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan, seluas 6 ha: dan kampus dua atau HK-2 yang berlokasi di desa Pancalang, Kecamatan Pancalang Kabupaten Kuningan, seluas 3 hektar.
Setiap tahun Ponpes HK menerima santri baru sebanyak 900 orang, yang datang dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia. Penerimaan Santri Baru (PSB) HK hanya digelar dalam 1 gelombang setiap tahun, dengan pelaksanaan tes seleksi pada setiap bulan Desember. Lokasi tesnya tersebar di berbagai tempat, antara lain di Kuningan, Jakarta, Bekasi, Lampung, dan daerah lainnya melalui semacam korda (koordinator daerah).
Untuk santri MTs yang lanjut ke MA HK dibebaskan biaya masuk, mereka hanya bayar biaya daftar ulang saja. Sedangkan kuota untuk santri MA (dari eksternal) disediakan kuota sekitar 2-3 rombel saja dengan harga normal (reguler), yaitu sekitar Rp 22.000.000-an dan SPP Rp 1.650.000/bulan.
Untuk santri yang berasal dari masyarakat sekitar Pesantren HK diberikan potongan harga sekitar 50% dari harga normal. Sementara santri yang berasal dari keluarga karyawan HK dibebaskan biaya masuk (uang pangkal) dan uang SPP.

Yang menarik, biro Bimbingan Konseling (BK) di Ponpes HK memegang peranan penting, karena dari sini para santri/wati MTs HK banyak yang lanjut ke MA HK. BK bukan hanya berarti Bimbingan dan Konseling seperti dipahami selama ini. Tapi BK juga berarti Bimbingan Karir, dimana para santri/wati yang membutuhkan masukan, nasehat, dan bimbingan tentang masa depan, maka mereka akan mendatangai kantor BK untuk mendapatkan jalan keluar atau solusi.
SDM BK sendiri berjumlah lebih dari 100 orang, yang berasal dari berbagai latar belakang disiplin ilmu, tapi utamanya dari disiplin psikologi.
Jumlah karyawan Ponpes HK, mulai dari pimpinan yayasan, mudir/direktur, kepala divisi, tenaga pendidik (ustadz/ustadzah) hingga security, tenaga kebersihan, tenaga dapur dan lainnya kesemuanya berjumlah sekitar 750 orang.


Pembinaan terhadap karyawan dilakukan secara terstruktur dan berjenjang. Bahkan masing-masing dari mereka diberikan semacam Rapor Pegawai, yang disitu tercantum nilai kinerja pegawai. Jika mereka berprestasi maka akan diberikan reward (apresiasi), sebaliknya jika berkinerja buruk maka akan ada sanksi (punishment).
Mereka diberikan kesejahteraan yang memadai oleh pihak pesantren. Mereka juga disediakan makan yang layak oleh manajemen HK, bahkan para karyawan diperbolehkan membawa jatah makan untuk anggota keluarganya yang ada di rumah, sehingga terasa keberkahannya.
Anggaran untuk keperluan dapur (makan-minum) para santri dan keluarga besar HK menghabiskan dana sekitar Rp 1 miliar per bulan, jadi per pekan sekitar Rp 250 juta. Sehingga anggaran untuk dapur ini paling tinggi, mengalahkan anggaran untuk SDM, Program, dan Infrastruktur.

Saking banyaknya kebutuhan makan santri dan keluarga besar HK, maka pihak HK sampai memesan khusus tempat menanak nasi (semacam rice cooker) berukuran super jumbo yang bentuknya seperti keranda. Sekali masak nasi mereka menghabiskan sekitar 3 karung beras, dan itu mereka lakukan tiga kali sehari, yaitu untuk makan pagi, siang dan malam.
Selain itu, yang bisa menginspirasi rombongan MQ adalah tentang pengelolaan unit bisnis Ponpes HK. “Unit bisnis di HK ada sekitar 13 unit, terdiri dari HK Mart, Guest House, Bakery, Resto, Konvensi, Sambungan Telepon (semacam wartel), dan lain-lain yang omzetnya sampai ratusan juta hingga miliaran rupiah per bulan. Alhasil, dari unit bisnis yang dibawah pengelolan Divisi Ekonomi ini mampu menyetor keuntungan ke Yayasan HK sebesar 5,6 M per tahun,” tutur Kyai Mulyadin, Mudir HK-1.
Urusan alumni juga menjadi perhatian penting bagi pondok pesantren Husnul Khotimah, supaya bisa memberikan kontribusi yang positif bagi keberadaan pesantren HK di mata masyarakat. Dari sekitar 8.000 alumninya bisa diberdayakan untuk promosi PSB HK, membangun jaringan, duta pesantren, maupun donatur pembangunan/pengembangan. “Saking pentingnya alumni hingga dibentuk wadah bernama ISLAH (Ikatan Silaturahmi Alumni HK), yang perwakilannya ada di berbagai kota, bahkan di mancanegara,” ujar KH. Imam Nur Suharno, Kepala Divisi Humas dan Dakwah HK.


***
Ketua umum Yayasan Husnul Khotimah Kuningan, KH. Mu’tamad, Lc., M.Pd. Al-Hafidz, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Husnul Khotimah bercita-cita membangun generasi robbani yang mampu berperan sebagai kader dakwah di mana pun mereka berada. “Harapannya, apapun profesi para santri kelak, mereka tetap berkomitmen dalam dakwah dan tarbiyah. Meski pesantren kami sudah berusia lebih dari 30 tahun, kami sadar masih banyak kekurangan dan akan terus belajar. Semoga dari kunjungan ini, kita dapat saling berbagi dan memberikan manfaat bersama,” ujar beliau.
Sementara itu, Ketua Yayasan Madinatul Qur’an Depok, KH. Dr. Sholihin Hadziq, M.HI, menyampaikan rasa terimakasih yang mendalam atas penerimaan hangat dari pihak Husnul Khotimah. Beliau mengungkapkan, “Kami sangat bersyukur atas masukan, pengalaman, dan ilmu luar biasa yang diberikan oleh tim Husnul Khotimah. Studi banding ini adalah momen bagi kami untuk ‘ngangsu kaweruh’ ngilmu dari pesantren yang kami anggap sebagai kakak dan senior kami di organisasi MAPADI.”
Lebih lanjut, Kyai Sholihin Hadziq mengapresiasi prestasi Husnul Khotimah yang luar biasa, mulai dari fasilitas fisik yang lengkap, berbagai unit kegiatan, hingga jumlah santri dan alumni yang sangat banyak. “Kami merasa berada di tempat yang sangat tepat untuk belajar. Apa yang kami pelajari hari ini Insya Allah akan kami terapkan sesuai kemampuan kami. Mudah-mudahan, ke depan kami bisa berkembang seperti Husnul Khotimah, meskipun harus kami lalui langkah demi langkah,” pungkasnya.

***
Sementara itu pada esok harinya, rombongan pimpinan MQ bertolak ke Pondok Pesantren Baitul Qur’an (BQ) Cirata Purwakarta, dimana malamnya menginap dulu di rumah bibi ustadzah Yani yang tak jauh dari lokasi pesantren HK. Kami berangkat sekitar pukul 07.00 pagi dan sampai ke lokasi BQ sekitar pukul 11.00 WIB.
Di ponpes BQ Cirata kami disambut dan dipersilahkan memasuki kantor Yayasan oleh Ust Yusuf Hadi Wijaya, Lc, Mudir BQ, didampingi Ust Yasin Hasan, Lc, ketua Yayasan, juga Ust Abdurrahman Muslih, S.Ag, dan beberapa ustadz dan ustadzah lainnya.
Ust Yusuf mengatakan, “Mestinya tim BQ yang bersilaturahmi dan studi banding ke MQ Depok karena usia kami lebih muda, tapi ini malah sebaliknya, MQ yang lebih dulu ke kami,” ucapnya merendah yang disambut tawa semua yang hadir dalam ruang pertemuan tersebut.


Tapi Ust Ayat Bahrul, direktur pesantren MQ menandaskan. “Bukan masalah siapa yang lebih dulu berdiri, tapi semangat belajar atau mencari ilmu itu bisa dari mana saja dan kepada siapa saja tanpa memandang senior atau junior. Siapa tahu pesantren BQ memiliki pengalaman yang luar biasa yang tidak kami miliki yang bisa kami ambil pelajaran dan hikmahnya,” ujarnya sambil tersenyum.
Pesantren Baitul Qur’an (BQ) Cirata berdiri pada tahun 2016 di atas lahan seluas 12 hektar dengan jumlah santri sebanyak 750 orang, terdiri dari 350 santri putra dan 400 santri putri. Dari 750 santri tersebut, sekitar 300-an anak merupakan santri beasiswa. Mereka hanya bayar uang buku dan kebutuhan lain yang jumlahnya sekitar Rp 1 jutaan saja.
Jenjang pendidikan yang ada di pesantren tersebut yaitu SMP Unggulan dan SPM (Satuan Pendidikan Muadalah) setingkat SMA/MA yang berinduk ke Kementerian Agama (Kemenag). Lama pendidikan di BQ Cirata selama 6 tahun, mirip sistem Gontor. “Artinya ketika santri/wati SMP ingin lanjut ke SPM/MA maka mereka tidak perlu membayar uang pangkal lagi. Namun kalau mereka hanya ingin sampai SMP saja juga tidak dilarang,” tutur Ust Yusuf.

Sebagian besar gedung di Ponpes BQ Cirata merupakan bantuan/hibah atau wakaf dari para donatur yang berasal dari Timur Tengah, seperti Qatar, Kuwait, Uni Emirat, Arab Saudi dan lainnya. Hal ini berkat jaringan yang dimiliki oleh KH Dr Muslih Abdul Karim, MA, pengaruh pesantren Baitul Qur’an Cirata.
Penerimaan Santri Baru (PSB) BQ Cirata dibagi kedalam 2 gelombang, dengan pelaksanaan tes seleksi untuk gelombang 1 pada bulan Desember dan untuk gelombang 2 pada bulan Maret tiap tahun. Adapun biaya masuk (uang pangkal) pesantren BQ Cirata sekitar Rp 22.000.000/santri, dengan besaran SPP sekitar Rp 1,6 juta per bulan.
Sedangkan jumlah total tenaga pendidik dan karyawan BQ sekitar 120 orang. Para pendidiknya rata-rata berasal dari alumni Gontor (60%), HK, LIPIA, dan pesantren lainnya.
Target hafalan Al-Qur’an bagi santri/wati di Ponpes Baitul Qur’an Cirata minimal 5 juz hingga lulus. Tapi bagi yang menginginkan lebih, disediakan halaqah Takhasus dan Takhasus Plus. Santri yang mengikuti halaqah Takhasus umumnya bisa mencapai hafalan lebih dari 10 juz, sedangkan yang di Takhasus Plus bisa mencapai 30 juz.
Yang hebat di BQ, tahfizh dan penerapan Bahasa Arab bisa berjalan beriringan, dengan salah satu caranya yaitu menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa pengantar di dalam kelas ketika mengajarkan mapel agama yang berbasis Bahasa Arab. (dz/humas)

Penulis & Editor : Ust Dhorifi Zumar