MQ Depok | Manajemen pesantren tahfizh Madinatul Qur’an Kota Depok bersama lembaga fundraisingnya, MQ Peduli Umat, kemarin, 2 September 2023 menggelar kajian parenting yang dihadiri sekitar 60 walisantri SMP Tahfizh dan SMA Tahfizh. Kajian parenting yang mengangkat tema “Sinergi Orangtua dalam Menguatkan Mental dan Jiwa Juang Santri di Pesantren” tersebut menghadirkan pemateri psikolog Evi Elvianti, S.Psi.
Dalam paparannya, psikolog jebolan Universitas Indonesia tersebut mengatakan bahwa terdapat tiga tipe manusia dalam menghadapi persoalan hidup. Pertama, tipe Quitters, yaitu mudah menyerah, memilih jalan yang mudah, dan mengabaikan peluang untuk maju. Tipe kedua, Campers, yaitu mudah merasa puas dengan apa yang sudah dicapainya, atau melakukan usaha seadanya. Tipe ketiga, Climbers, yaitu selalu optimis, melihat peluang-peluang, tidak mudah puas, dan selalu bergairah untuk maju.
“Tapi mayoritas manusia itu bertipe Campers dan Quitters, dan hanya sebagian kecil yang tertipe Climbers. Meski begitu, dengan kerja keras dan tekad yang kuat seseorang bisa berubah dari tipe Quitters ke tipe Cambers bahkan Climbers,” tandas Evi. Tergantung pada Adversity Quotient (AQ) yang dimiliki seseorang tersebut. Yaitu, kemampuan atau kecerdasan yang dimiliki seseorang, baik fisik ataupun psikis, dalam menghadapi permasalahan, kesulitan, atau hambatan.
Lalu apa yang bisa orangtua lakukan untuk meningkatkan daya juang anak, agar tetap bersemangat dan betah hidup di pesantren? Evi Elviati memberikan tipsnya. Pertama, tumbuhkan tekad/komitmen/niat yang kuat untuk mencapai satu tujuan/sasaran/kesuksesan. Kedua, ajarkan anak untuk menghadapi rintangan, jangan menghindar. Ketiga, ajarkan anak untuk bersikap proaktif dalam mengatasi rintangan dengan cara, antara lain menyadari bahwa ia sedang menghadapi masalah, dan bantulah untuk cari penyebabnya dan alternatif solusi. Keempat, ajarkan anak keterampilan untuk mengatasi kecemasan/stress dan mengelola emosi. Kelima, berikan dukungan emosional kepada sang anak, artinya orangtua siap membantu dan selalu berada di dekatnya.
Selanjutnya, apa yang sebaiknya dilakukan ketika anak mengeluh, misal capek, bosan, tidak betah di pondok pesantren? Menurut Evi, pertama, dengarkan dan pahami keluhannya. Berikan respon yang berkualitas, gunakan kemampuan empati, dan jangan berikan penilaian/judgement. Kedua, Gali keluhan anak lebih dalam, tabayun, lalu cari kemungkinan penyebab lain, dan temukan masalah sebenarnya. Ketiga, Berikan solusi yang terbaik, seraya berdoa kepada Allah, libatkan pihak-pihak terkait, dan berikan nasehat, motivasi, dan masukan nilai-nilai Islami.
Sementara itu, ketua yayasan MQ sekaligus pengasuh pesantren MQ, KH Dr. Sholihien Hadziq, dalam sambutannya mengharapkan bahwa para orang tua bisa meniru Lukmanul Hakim dalam mendidik anak-anaknya, sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an, yaitu menanamkan aqidah tauhid yang kuat atau tidak berbuat syirik, lalu mengajarkan anak-anak agar rajin beribadah kepada Allah, dan membekali etika atau akhlakul karimah kepada anak-anaknya, supaya mereka tidak berlaku sombong di muka bumi. (humas)


